Di balik setiap band yang mampu bertahan melewati waktu, selalu ada satu karya yang menjadi fondasi utama perjalanan mereka. Bagi band ini, lagu “Kiwari Cai Mata Getih” adalah karya tersebut.
Menariknya, lagu ini sebenarnya telah lahir jauh sebelum dua karya mereka yang lebih dikenal, yakni “Dismember” dan “Konspirasi Malaikat Bertanduk”. “Kiwari Cai Mata Getih” sudah ada sejak masa-masa awal terbentuknya band ini yang kala itu masih menggunakan nama Metalmix Percussion pada pertengahan tahun 2012.
Lagu tersebut berawal dari sebuah karya yang dihibahkan oleh seorang sahabat dekat. Dari materi awal itulah proses pengembangan dilakukan hingga akhirnya tumbuh menjadi bentuk utuh yang kini dapat didengarkan oleh publik. Bagi mereka, “Kiwari Cai Mata Getih” bukan sekadar lagu lama yang kembali diperkenalkan, melainkan pondasi yang membuat band ini mampu bertahan dan terus berjalan hingga hari ini.
Pemilihan judul dan keseluruhan lirik dalam bahasa Sunda juga bukan tanpa alasan. Band ini meyakini bahwa penggunaan bahasa daerah mampu menghadirkan kesan yang lebih dramatis, emosional, dan dekat dengan akar budaya yang mereka miliki. Setiap kalimat yang digunakan dianggap memiliki daya pukau tersendiri yang sulit digantikan oleh bahasa lain.
Secara makna, “Kiwari Cai Mata Getih” dapat dimaknai sebagai gambaran tentang zaman yang sedang dijalani saat ini, sebuah masa yang menurut mereka tidak sedang berada dalam kondisi baik-baik saja. Lagu ini lahir dari upaya menangkap berbagai realitas yang terlihat dan dirasakan di sekitar mereka pada masa itu.
Band ini juga menyadari bahwa sebagian pendengar mungkin akan merasakan karakter lagu yang terdengar mentah dan apa adanya. Namun justru itulah yang ingin mereka pertahankan. Kesan mentah tersebut merupakan bagian dari identitas karya yang lahir dari keterbatasan pengetahuan dan literasi pada masa awal perjalanan mereka, ketika segala sesuatu masih diproses berdasarkan intuisi, pengamatan, dan pengalaman langsung.
Lebih jauh, “Kiwari Cai Mata Getih” tidak dimaksudkan sebagai ceramah atau khotbah mengenai kerusakan alam maupun berbagai persoalan sosial yang terjadi. Lagu ini justru menjadi bentuk refleksi terhadap perubahan zaman yang mereka rasakan, ketika berbagai bentuk ketidakadilan, penggusuran ruang hidup, perampasan hak masyarakat adat, hingga berbagai praktik yang mengatasnamakan pembangunan dan perubahan semakin sering terjadi di sekitar kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, lagu ini juga mengajak pendengar untuk melihat ke dalam diri sendiri. Bukan hanya mempertanyakan pihak yang dianggap berkuasa, tetapi juga mempertanyakan sikap diam, apatisme, dan kenyamanan yang membuat banyak orang memilih menjadi penonton dari berbagai persoalan yang terjadi.
Melalui “Kiwari Cai Mata Getih”, band ini menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya merekam jejak perjalanan musikal mereka, tetapi juga menyimpan potret kegelisahan sosial yang tetap relevan hingga hari ini. Sebuah pengingat bahwa di tengah berbagai perubahan zaman, masih ada banyak hal yang layak dipertanyakan, direnungkan, dan diperjuangkan.
“Kiwari Cai Mata Getih” bukan sekadar lagu, melainkan catatan perjalanan, refleksi zaman, sekaligus suara yang lahir dari keresahan yang telah mereka simpan sejak awal berdiri.





