Perkembangan musik di era digital bukan lagi sekadar perubahan kecil, tetapi sebuah lompatan besar yang mengubah cara orang membuat, mendengarkan, dan menikmati musik. Teknologi digital telah membuka peluang seluas-luasnya bagi siapapun untuk berkarya, tanpa harus memiliki peralatan mahal atau studio yang besar. Dengan adanya platform digital, teknologi home recording, VST, dan sekarang bahkan kecerdasan buatan, proses pembuatan musik menjadi jauh lebih mudah. Kecerdasan Buatan (AI) kini dapat digunakan untuk menciptakan pola musik, menghasilkan aransemen yang inovatif, dan memberikan rekomendasi kreatif dalam proses produksi sebagaimana diungkapkan oleh Jones & Smith (2021, dalam Fajriansyah dan Ardiyanti, 2024). Era ini memberikan banyak kesempatan sekaligus tantangan bagi musisi untuk tetap kreatif, inovatif, mandiri, dan bijak dalam menggunakan teknologi sebagai pendukung karya mereka.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia musik, mulai dari cara mendengarkan hingga cara menciptakan musik itu sendiri. Sekarang, dengan adanya kecerdasan buatan, musik menjadi lebih mudah diakses dan proses kreatif semakin terbuka bagi siapa saja. Namun, di tengah kemajuan itu, esensi musik tetap terletak pada emosi dan kejujuran yang disampaikan oleh musisi tersebut. Meski AI bisa membuat lagu, menurut saya rasa dan pengalaman yang lahir dari musisi serta ekspresi yang disampaikan tetap tidak bisa tergantikan dengan buatan manusia. Walaupun musik yang dibuat dengan AI juga terdengar enak, namun karya tersebut tidak menceritakan jejak perjalanan, tidak menggambarkan perjuangan dan air mata peciptanya.
Kecanggihan teknologi AI memang memberikan kemudahan besar bagi industri musik, baik dalam efisiensi waktu, biaya produksi, maupun proses produksinya. Namun, dibalik manfaat tersebut, terdapat ancaman serius terhadap keberlangsungan peran manusia dalam industri ini. Ketergantungan penuh pada teknologi AI berpotensi menghilangkan profesi penting seperti komposer, teknisi mixing, hingga tenaga pemasaran musik. Selain itu, kemudahan dan kecepatan produksi lagu yang berlebihan dapat menghapus nilai kelangkaan serta menurunkan apresiasi terhadap karya musik baru.
Kriteria penilaian konvensional yang berfokus pada aspek seperti keaslian ide, kedalaman ekspresi emosional, dan inovasi artistik menjadi sulit diaplikasikan secara memadai pada komposisi yang dihasilkan mesin (mengingat proses kreatif AI bersifat derivatif dari data pelatihan dan tidak melibatkan intensi artistik manusia). Menurut Saya, teknologi hanyalah alat. Ia memang memberi kemudahan, tetapi tidak bisa menggantikan makna dan perasaan yang hanya bisa lahir dari manusia (Setiawan 2025). AI dapat menciptakan musik, tetapi ia tidak memiliki pengalaman, emosi, atau jiwa. Justru di sinilah peran musisi menjadi penting, bukan untuk bersaing dengan teknologi, melainkan untuk menjadi teman dalam proses kreatif. Selama manusia tetap menjaga esensi dalam berkarya, musik akan selalu menunjukkan “rasanya” sendiri.
Author by:
Farhan Al Ghifari
farhanalghifari62@gmail.com




