Di ranah sinema Indonesia, soundtrack adalah penentu suasana. Namun, apa jadinya jika lagu yang dipilih justru menjadi magnet yang lebih besar daripada filmnya sendiri? Dalam film, musik adalah bahasa emosi. Keputusan sutradara Yandy Laurens menggunakan lagu “Terbuang Dalam Waktu” dari band Barasuara untuk film pendek “Sore (Istri dari Masa Depan)” adalah contoh kolaborasi yang sangat berhasil.
Barasuara, yang diperkuat oleh enam personil, dikenal dengan musikalitasnya yang kuat dan lirik puitis penuh metafora. Kedalaman dan nuansa melankolis lagu “Terbuang Dalam Waktu” secara instan memperkuat tema kerinduan dan kesendirian dalam narasi “Sore”.
Lagu tersebut sukses bertransformasi dari sebuah single menjadi jembatan emosional yang membawa penonton merasakan suasana film secara mendalam. Menariknya, lagu ini menciptakan fenomena langka: popularitasnya melampaui medium film.
Jika dilihat dari angka penonton, music video “Terbuang Dalam Waktu” mencatatkan jumlah penayangan yang lebih tinggi dibandingkan film “Sore” itu sendiri. Hal ini membuktikan bahwa: Kualitas stand-alone musik Barasuara sudah sangat kuat.
Pemilihan soundtrack yang cerdas memperluas jangkauan dan memperkuat resonansi emosi karya sinema tersebut. Kasus “Terbuang Dalam Waktu” adalah bukti bahwa soundtrack yang tepat tidak hanya mengiringi, tetapi juga menggenggam emosi penonton dan menjadi faktor sukses yang tak terlupakan dalam industri perfilman.
Menurut Anda, film Indonesia mana lagi yang soundtrack-nya memiliki dampak sebesar ini?
Author by:
Desron Situmorang
desronsitumorang123@gmail.com




