Hardcore asal Tangerang, The Jems, resmi merilis album debut bertajuk “Buy One Get War” — sebuah selebrasi penuh amarah, ironi, dan kemenangan dari generasi muda yang tumbuh di tengah tekanan hidup selepas SMA. Dibentuk oleh Afrizal Aji Bayu (bass) dan Dito Raharjo (vokal) dari sebuah warung kecil yang dikenal dengan nama Warung Basmen, band ini kemudian diperkuat oleh Kesid Mukti (gitar) dan Anugrah Fikriansyah (drum).
Sejak awal, The Jems hadir sebagai pelampiasan emosi kolektif. Mereka menyebut band ini sebagai “buku binder”—tempat mencatat cerita, frustrasi, dan pengalaman hidup sehari-hari, seperti bertukar stiker Digimon saat kecil. Semua itu tertuang dalam album Buy One Get War, yang mereka sebut sebagai “kanvas konkret” dari perjuangan di usia 20-an.
Lebih dari Sekadar Hardcore
Berbeda dari stereotype band hardcore yang sering berbicara soal kekerasan, politik, atau depresi, The Jems memilih jalur yang lebih personal. Album ini bicara soal rasa kalah yang terlalu akrab, dan keberanian untuk mengumumkan kemenangan, sekecil apapun bentuknya. Gaya mereka terinspirasi dari semangat Fugazi di 13 Songs hingga energi perang ala Champion — tapi dibungkus dengan sikap sok tau yang jujur khas mereka.
Track by Track: Sorotan Isi Kepala Para Jems
- Fucked Up Got Zipped
Dito mempertanyakan nilai pendidikan formal yang terlalu sempit. Baginya, dunia nyata lebih luas daripada tiga ratus halaman buku. - Go Back To The Krü
Kisah pelepasan Kesid setelah menuntaskan dunia kuliah — bebas, lantang, dan tanpa teori. - Sinatra Versi Plastik
Kritik Dito terhadap para “abang-abangan” tua yang terlalu percaya pada dongeng masa lalu, lewat lirik tajam:
“Kau yang terlalu mid-century, untuk kami yang sudah cyberpunk. Kau yang masih saja akustik, untuk kami yang sudah modular.” - Sial Besok Senin
Curhatan Afrizal sebagai mahasiswa yang dituduh menggunakan narkoba karena tampang kelelahan akibat tugas kampus. - Buy One Get War
Lagu utama yang menggambarkan pria tanggung yang terpaksa menjadi pejuang dalam dunia yang terlalu cepat dewasa. - Mental Health
Dito menghadapi krisis mental yang tak pernah ia duga. Dari aksi brutal di panggung seperti memukul kepala sendiri hingga menggigit mic, lagu ini adalah proses bertahan dan keluar dengan kepala tegak. - Negative Conversation
Dito berkonflik dengan lirik-lirik kelam milik Ian Curtis (Joy Division), mempertanyakan pengaruhnya terhadap cara berpikir generasi muda. - Panduan Hidup Tuan Mckaye
Perenungan terhadap ego, idealisme usang, dan ketergantungan yang menghambat. The Jems mengajak kita menang telak atas semua itu.
Hardcore, Tapi Optimis
Melalui Buy One Get War, The Jems ingin menyebarkan optimisme bahwa setiap masalah akan berlalu. Bahwa di balik segala tekanan, tuntutan, dan absurditas hidup, kita bisa menang. Mungkin tidak spektakuler, tapi tetap layak dirayakan.
“Walau mati adalah titik akhir kemenangan dalam kehidupan, tidak ada salahnya merayakan keberhasilan-keberhasilan kecil dalam hidup ini.”
The Jems hadir bukan untuk memberi solusi, tapi menjadi teman seperjalanan dalam kegelisahan. Sebuah band marah, sok tau, tapi jujur. Dan sekali lagi, mereka berani bilang: “Kami menang telak!”




